Jalan-jalan
Kevina’s Blog: Pesona keindahan Nusa Lembongan kini sudah tidak asing lagi di telinga setiap orang yg berkunjung ke Bali. Bali yang biasanya dikenal dengan deburan ombak pantai Kuta, pesona kecantikan Pura Tanah Lot, keagungan Pura Besakih atau romantisme sunset di pantai Dreamland.. kini dilengkapi dengan pesona keindahan alam Nusa Lembongan dengan pasir yang putih serta wisata bahari yang akan membuat liburan Anda menjadi kenangan yang tidak terlupakan…
Arsitektur Bali
Tradisi dapat diartikan sebagai kebiasaan yang turun temurun dalam suatu masyarakat yang merupakan kesadaran kolektif dengan sifatnya yang luas, meliputi segala aspek dalam kehidupan. Sehingga, Arsitektur Tradisional Bali (ATB) diartikan sebagai tata ruang dari wadah kehidupan masyarakat Bali yang telah berkembang secara turun-temurun dengan segala aturan-aturan yang diwarisi dari zaman dahulu, sampai pada perkembangan satu wujud dengan ciri-ciri fisik yang terungkap pada lontar Asta Kosala-Kosali, Asta Patali dan lainnya, sampai pada penyesuaian-penyesuaian oleh para undagi yang masih selaras dengan petunjuk-petunjuk dimaksud.
Konsep Dasar
Arsitektur tradisional Bali yang kita kenal, mempunyai konsep-konsep dasar yang mempengaruhi tata nilai ruangnya. Konsep dasar tersebut adalah:
- Konsep hirarki ruang, Tri Loka atau Tri Angga
- Konsep orientasi kosmologi, Nawa Sanga atau Sanga Mandala
- Konsep keseimbangan kosmologi, Manik Ring Cucupu
- Konsep proporsi dan skala manusia
- Konsep court, Open air
- Konsep kejujuran bahan bangunan
Arsitektur tradisional Bali memiliki konsep-konsep dasar dalam menyusun dan memengaruhi tata ruangnya, diantaranya adalah:
- Orientasi Kosmologi atau dikenal dengan Sanga Mandala
- Keseimbangan Kosmologi, Manik Ring Cucupu
- Hierarki ruang, terdiri atas Tri Loka dan Tri Angga
- Dimensi tradisional Bali yang didasarkan pada proporsi dan skala manusia
Ada tiga buah sumbu yang digunakan sebagai pedoman penataan bangunan di Bali, sumbu-sumbu itu antara lain:
- Sumbu kosmos Bhur, Bhuwah dan Swah (hidrosfir, litosfir dan atmosfir)
- Sumbu ritual kangin-kauh (terbit dan terbenamnya matahari)
- Sumbu natural Kaja-Kelod (gunung dan laut)
- Orientasi Kosmologi / Sanga Mandala
Sanga Mandala
Sanga Mandala merupakan acuan mutlak dalam arsitektur tradisional Bali, dimana Sanga Mandala tersusun dari tiga buah sumbu yaitu:
1. Sumbu Tri Loka: Bhur, Bhwah, Swah; (litosfer, hidrosfer, atmosfer)
2. Sumbu ritual: Kangin (terbitnya Matahari) dan Kauh (terbenamnya Matahari)
3. Sumbu natural: Gunung dan Laut
Hirarki Ruang / Tri Angga
Tri Angga
Tri Angga adalah salah satu bagian dari Tri Hita Karana, (Atma, Angga dan Khaya). Tri Angga merupakan sistem pembagian zona atau area dalam perencanaan arsitektur tradisional Bali.
1. Utama, bagian yang diposisikan pada kedudukan yang paling tinggi, kepala.
2. Madya, bagian yang terletak di tengah, badan.
3. Nista, bagian yang terletak di bagian bawah, kotor, rendah, kaki.
Dimensi Tradisional Bali
Dalam perancangan sebuah bangunan tradisional Bali, segala bentuk ukuran dan skala didasarkan pada orgaan tubuh manusia. Dikenal beberapa nama dimensi ukuran tradisional Bali adalah : Astha, Tapak, Tapak Ngandang, Musti, Depa, Nyari, A Guli serta masih banyak lagi yang lainnya. Sebuah desain bangunan tradidsional Bali tentunya harus memiliki aspek lingkungan ataupun memprhatikan kebudayan tersebut.
Bangunan Hunian
Hunian pada masyarakat Bali ditata sesuai dengan konsep Tri Hita Karana. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci, digunakan sebagai tempat pemujaan, Pamerajan (sebagai pura keluarga). Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah, merupakan arah masuk ke hunian.
Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan aling-aling, yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi), tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Angkul-angkul ini bentuk mirip seperti pagar utama di bangunan modern, sebagai pintu masuk penghubung antara luar dengan area dalam bangunan. Pada bagian ini terdapat bangunan Jineng (lumbung padi) dan paon (dapur). Berturut-turut terdapat bangunan-bangunan bale tiang sangah, bale sikepat/semanggen dan Umah meten. Tiga bangunan (bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam) merupakan bangunan terbuka (tanpa tembok, dengan bangunan dasar berbentul Bale yang sering kita jumpai pada umumnya).
Ditengah-tengah hunian bangunan tradisional Bali, terdapat natah (court garden/halaman) yang merupakan pusat dari hunian. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga, atau anak gadis. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding, sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga). Hunian tipikal pada masyarakat Bali ini, biasanya mempunyai pembatas yang berupa pagar yang mengelilingi bangunan/ruang-ruang tersebut diatas.
Kajian Ruang Luar dan Ruang Dalam
Mengamati hunian tradisional Bali tentu akan sangat berbeda dengan hunian pada umumnya. Hunian tunggal tradisional Bali terdiri dari beberapa masa yang mengelilingi sebuah ruang terbuka. Gugusan masa tersebut dilingkup oleh sebuah tembok/dinding keliling. Dinding pagar inilah yang membatasi alam yang tak terhingga menjadi suatu ruang yang oleh Yoshinobu Ashihara disebut sebagai ruang luar. Jadi halaman di dalam hunian masyarakat Bali adalah sebuah ruang luar. Konsep pagar keliling dengan masa-masa di dalamnya memperlihatkan adanya kemiripan antara konsep Bali dengan dengan konsep ruang luar di Jepang. Konsep pagar keliling yang tidak terlalu tinggi ini juga sering digunakan dalam usaha untuk “meminjam” unsur alam ke dalam bangunan.
Masa-masa seperti Uma meten, bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam, lumbung dan paon adalah masa bangunan yang karena beratap, mempunyai ruang dalam. Masa-masa tersebut mempunyai 3 unsur kuat pembentuk ruang yaitu elemen lantai, dinding dan atap (pada bale tiang sanga, bale sikepat maupun bale sekenam dinding hanya 2 sisi saja, sedang yang memiliki empat dinding penuh hanyalah uma meten).
Keberadaan tatanan uma meten, bale tiang sanga, bale sikepat dan bale sekenam membentuk suatu ruang pengikat yang kuat sekali yang disebut natah. Ruang pengikat ini dengan sendirinya merupakan ruang luar. Sebagai ruang luar pengikat yang sangat kuat, daerah ini sesuai dengan sifat yang diembannya, sebagai pusat orientasi dan pusat sirkulasi.
Pada saat tertentu natah digunakan sebagai ruang tamu sementara, pada saat diadakan upacara adat, dan fungsi natah sebagai ruang luar berubah, karena pada saat itu daerah ini ditutup atap sementara/darurat. Sifat Natah berubah dari ‘ruang luar’ menjadi ‘ruang dalam’ karena hadirnya elemen ketiga (atap) ini. Elemen pembentuk ruang lainnya adalah lantai tentu, dan dinding yang dibentuk oleh ke-empat masa yang mengelilinginya. Secara harafiah elemen dinding yang ada adalah elemen dinding dari bale tiang sanga, bale sikepat dan bale sekenam yang terjauh jaraknya dari pusat natah. Apabila keadaan ini terjadi, maka adalah sangat menarik, karena keempat masa yang mengelilinginya ditambah dengan natah (yang menjadi ruang tamu) akan menjadi sebuah hunian besar dan lengkap seperti hunian yang dijumpai sekarang. Keempatnya ditambah natah akan menjadi suatu ‘ruang dalam’ yang ‘satu’, dengan paon dan lumbung adalah fungsi service dan pamerajan tetap sebagai daerah yang ditinggikan. Daerah pamerajan juga merupakan suatu ruang luar yang kuat, karena hadirnya elemen dinding yang membatasinya.
Kajian Ruang Positif dan Ruang Negatif
Sebagai satu-satunya jalan masuk menuju ke hunian, angkul-angkul berfungsi sebagai gerbang penerima. Kemudian orang akan dihadapkan pada dinding yang menghalangi pandangan dan dibelokan ke arah sembilan-puluh derajat. Keberadaan dinding ini (aling-aling), dilihat dari posisinya merupakan sebuah penghalang visual, dimana ke-privaci-an terjaga. Hadirnya aling-aling ini, menutup bukaan yang disebabkan oleh adanya pintu masuk. Sehingga dilihat dari dalam hunian, tidak ada perembesan dan penembusan ruang. Keberadaan aling-aling ini memperkuat sifat ruang positip yang ditimbulkan oleh adanya dinding keliling yang disebut oleh orang Bali sebagai penyengker. Ruang di dalam penyengker, adalah ruang dimana penghuni beraktifitas. Adanya aktifitas dan kegiatan manusia dalam suatu ruang disebut sebagai ruang positip. Penyengker adalah batas antara ruang positip dan ruang negatip.
Dilihat dari kedudukannya dalam nawa-sanga, “natah” berlokasi di daerah madya-ning-madya, suatu daerah yang sangat “manusia”. Apalagi kalau dilihat dari fungsinya sebagai pusat orientasi dan pusat sirkulasi, maka natah adalah ruang positip. Pada natah inilah semua aktifitas manusia memusat, seperti apa yang dianalisa Ashihara sebagai suatu centripetal order.
Pada daerah pamerajan, daerah ini dikelilingi oleh penyengker (keliling), sehingga daerah ini telah diberi “frame” untuk menjadi sebuah ruang dengan batas-batas lantai dan dinding serta menjadi ‘ruang-luar’ dengan ketidak-hadiran elemen atap di sana.Nilai sebagai ruang positip, adalah adanya kegiatan penghuni melakukan aktifitasnya disana.
Pamerajan atau sanggah, adalah bangunan paling awal dibangun, sedang daerah public dan bangunan service (paon, lumbung dan aling-aling) dibangun paling akhir.
Proses ini menunjukan suatu pembentukan berulang suatu ruang-positip; dimana ruang positip pertama kali dibuat (Pamerajan atau sanggah), ruang diluarnya adalah ruang-negatip. Kemudian ruang-negatip tersebut diberi ‘frame’ untuk menjadi sebuah ruang-positip baru. Pada ruang positip baru inilah hadir masa-masa uma meten, bale tiang sanga, pengijeng, bale sikepat, bale sekenam, lumbung, paon dan lain-lain. Kegiatan serta aktifitas manusia terjadi pada ruang positip baru ini.
Konsistensi dan Konsekuensi
Tidak seperti di beberapa belahan bumi yang lain dimana sebuah bangunan (rumah, tempat ibadah) berada dalam satu atap, di Bali yang disebut sebuah bangunan hunian adalah sebuah halaman yang dikelilingi dinding pembatas pagar dari batu bata dimana didalamnya berisi unit-unit atau bagian-bagian bangunan terpisah yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Sebuah hunian di Bali, sama dengan dibeberapa bagian dunia yang lain mempunyai fungsi-fungsi seperti tempat tidur, tempat bekerja, tempat memasak, tempat menyimpan barang (berharga dan makanan), tempat berkomunikasi, tempat berdoa dan lain-lain. Ruang-ruang, sebagai wadah suatu kegiatan contoh untuk aktivitas tidur, di Bali merupakan sebuah bangunan yang berdiri sendiri.Sedang dilain pihak secara umum sebuah ruang tidur merupakan bagian sebuah bangunan.Ruang tidur adalah bagian dari ruang-dalam atau interior. Uma meten, Bale sikepat, Bale sekenam, Paon merupakan massa bangunan yang berdiri sendiri. Menurut Yoshinobu Ashihara ruang-dalam adalah ruang dibawah atap, sehingga Uma meten dan lain-lain adalah juga ruang-dalam atau interior.Ruang diluar bangunan tersebut (natah) adalah ruang luar, karena kehadirannya yang tanpa atap. Apabila bagian-bagian bangunan Hunian Bali dikaji dengan kaidah-kaidah ‘Ruang luar-Ruang dalam’, terutama juga apabila bagian-bagian hunian Bali dilihat sebagai massa per massa yang berdiri sendiri, maka adalah konsekuensi apabila pusat orientasi sebuah hunian adalah ruang luar (natah) yang juga pusat sirkulasi.Pada kenyataannya ruang ini adalah bagian utama (yang bersifat ‘manusia’) dari hunian Bali.
Apabila dikaji dari rumusan suatu hunian, maka natah adalah bagian dari aktifitas utama sebuah hunian yang sudah selayaknya merupakan bagian dari aktivitas ruang-dalam atau interior. Kemudian apabila dikaitkan dengan keberadaan bale sikepat, bale sekenam dan bale tiang sanga yang hanya memiliki dinding dikedua sisinya saja, serta posisi masing-masing dinding yang ‘membuka’ ke arah natah jelaslah terjadi sebuah ruang yang menyatu. Sebuah ruang besar yang menyatukan uma meten disatu sisi dan bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam serta natah yang layaknya sebuah hunian. Hunian yang sama dengan yang ada pada masa kini, dimana bale-bale adalah ruang tidur, natah adalah ruang tempat berkumpul yang bisa disebut sebagai ruang keluarga. Apabila dikaitkan lebih jauh, jika kegiatan paon (dapur) bisa disamakan dengan kegiatan memasak dan ruang makan, maka hunian Bali, teryata identik dengan hunian-hunian berbentuk flat pada hunian orang Barat.
Kajian terhadap hunian Bali ini, apabila hunian tersebut dipandang sebagai satu kesatuan utuh rumah tinggal, konsekuensinya adalah ruang didalam penyengker (dinding batas) adalah ruang-dalam. Bangunan dalam hunian Bali tidak dilihat sebagai massa tetapi harus dilihat sebagai ruang didalam ruang. Apalagi bila dilihat kehadiran dinding-dinding pada bale tiang sanga, bale sikepat maupun sekenam yang ‘membuka’ kearah yang me-enclose ruang, maka keadaan ini memperkuat kehadiran nuansa ruang-dalam atau interior pada hunian tradisional Bali. Dengan kondisi demikian maka penyengker adalah batas antara ruang-dalam dan ruang-luar (jalan desa). Hal ini ternyata memiliki kesamaan dengan pola yang ada di Jepang, yang oleh Ashihara (1970) dinyatakan:
Japanese wooden houses do not directly face the street but surrounded by fences. Since the garden is invisible from the street, it is ruled by the order inside the house
in the case of Japanese houses, garden are ruled by interior order, and fences serve as boundaries to separate interior from exterior space.
Pada kajian ini terlihat adanya kesamaan sifat halaman sebagai ruang-dalam atau interior pada hunian arsitektur tradisional Bali maupun arsitektur tradisional Jepang. Meskipun pada hunian Bali kesan ruang-dalam lebih terasa dan jelas dibandingkan dengan hunian Jepang.
Kajian ini semakin menarik apabila dikaitkan dengan teori Yoshinubo Ashihara diatas; bahwa ruang-luar adalah ruang yang terjadi dengan membatasi alam yang tak terhingga (dengan batas/pagar dll) dan juga ruang-luar adalah ruang dimana elemen ketiga dari ruang (yaitu atap) tidak ada. Dilain pihak ruang-dalam adalah lawan dari ruang-luar (dimana terdapat elemen ruang yang lengkap yaitu alas, dinding dan atap). Maka pada kasus hunian, teori Yoshinobu Ashihara ternyata saling bertentangan. Baik pertentangan antara ruang-luar terhadap ruang-dalam dikaitkan dengan terjadinya maupun keterkaitan dengan elemen alas, dinding dan atap.
Pada hunian Jepang, dikatakan oleh Yoshinobu Ashihara dinding pagar adalah batas antara ruang-dalam dan ruang-luar. Pada hunian Bali, penyengker berfungsi sama dengan hal tersebut. Penyengker bisa menghadap alam bebas, tetangga maupun jalan desa. Pada kasus penyengker menghadap jalan desa, kemudian jalan desa menghadap penyengker bangunan yang lain, maka jalan desa adalah ruang luar yang positip. Pada jalan desa terjadi aktivitas dimana masyarakat menggunakan baik untuk kegiatan sehari-hari maupun sarana kegiatan prosesi ritual dan seni. Aktifitas yang memusat ke dalam (centripetal order) ini disebut Yoshinobu Ashihara, ruang positip.
Galeri tentang Arsitektur Tradisional Bali
Artikel
Ada yang udah pernah dengar tentang Jangkrik85 Bali ? Hmm.. mungkin bagi anda terutama yang berada di wilayah Bali, tentunya nama ini sudah tidak asing lagi terdengar. Betul, Jangkrik85 Bali merupakan pioneer pabrik kaos kartunm karikatur, dan merchandise yang menspesifikasikan diri dalam desain dengan tema tentang Bali. Terhitung sejak awal tahun 2003, Jangkrik85 Bali mengawali eksistensinya dari mengisi outlet di tempat-tempat wisata di Bali (Tanah Lot, Alas Kedaton, Kuta, Nusa Dua, Ubud, dan Art Center). Jangrik85 Bali tidak membuka cabang di luar Bali karena konsep Jangrik85 Bali adalah kaos & merchandise oleh-oleh dari Pulau Dewata – Bali.
Saat ini Jangkrik85 Bali telah memiliki 3 outlet utama yaitu di Sunset Road (pusat), GWK, dan Central Parkir Kuta, dan 6 outlet lainnya yang tersebar di pusat-pusat perbelanjaan seperti Carrefour Bali, Centro Bali, Hardy’s, Plaza Bali, dll). Produknya berupa t-shirt, topi, tas, celana pantai, sandal, pin dan masih banyak lagi.
Sebagai icon produk kartun, Jangrik85 Bali juga telah mendirikan Museum Kartun Karikatur Indonesia Bali. Museum ini merupakan Museum Kartun pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Ulasan lebih lengkap bisa dibaca di SINI.
Gallery dibawah ini menunjukkan lokasi dan suasana Outlet Jangkrik85 Bali.
Outlet Jangkrik85 Bali di GWK Cultural Park, Jimbaran – Bali | +62 361 703 617
Outlet Jangkrik85 Bali di Istana Kuta Galeria, Central Parkir Kuta – Bali | +62 361 769 388
Outlet Jangkrik85 Bali di Sunset Road Boulevard 85 Kuta – Bali | +62 361 847 7425
Event
Bagi anda yang ingin tahu tentang jadwal kegiatan PKB XXXI tahun 2009, bisa didownload disini :
Gosip
Hollywood – Siapa yang tak kenal artis yang satu ini ? Aktris papan atas Hollywood Julia Roberts sepakat untuk tampil di film yang diadaptasi dari memoar bestseller karya Elizabeth Gilberts ‘Eat, Pray, Love’. Rencananya Julia melakoni syuting film tersebut di Pulau Dewata.
Seperti dikutip dari Variety, Jumat (24/4/2009), ‘Eat, Pray, Love’ menampilkan kisah petualangan Gilbert, seorang penulis yang keliling dunia untuk menemukan jati dirinya usai bercerai. Di film produksi Paramount itu, Gilbert akan diperankan oleh aktris peraih Oscar, Julia Roberts.
Di ‘Eat, Pray, Love’, Gilbert tinggal di Italia selama empat bulan untuk menyantap makanan lezat dan menikmati hidup. Kemudian ia melanjutkan perjalanan ke India berusaha menemukan pengalaman spiritual. Petualangannya pun berakhir di Bali. Di sana, Gilbert mencari makna cinta.
Film tersebut akan segera digarap oleh sutaradara seral televisi ‘Nip/Tuck‘, Ryan Murphy. ‘Eat, Pray, Love‘ akan mulai diproduksi pada Juli 2009 dan akan siap diputar di bioskop pada 2011. Jadi, nantikan segera film ini.
Film
Between 1926 and 1958, the island of Bali was featured in several movies shot by Dutch, German and American film-makers. From early images of the “Island of the Gods” through to images of the “Island of Demons”, these films document the changing nature of Bali’s image. The 1952 movie The Road to Bali starring Bob Hope and Bing Crosby, is the ultimate amalgam of images of Southeast Asia and the Pacific. Under the guise of humour the movie managed to include cannibals, wild animals and a giant squid, as well as Humphrey Bogart and Katharine Hepburn pulling The African Queen. The ‘Bali Hai’ of South Pacific (1958) had nothing directly to do with Bali, but everything to do with Bali’s image. The island shown as Bali Hai was not in the right ocean, but the name and the soothing sea-breeze-like notes of the hit song were thought to be sufficiently close to something resembling “Bali”. Hollywood made Bali the paradise of paradises by combining all the ideals of the South Seas into one.
In the last ten years this island has been written about, filmed, photographed, and gushed over to an extent which would justify nausea. I went there half-unwillingly, for I expected a complete “bali-hoo”, picturesque and faked to a Hollywood standard; I left there wholly unwillingly, convinced that I had seen the nearest approach to Utopia that I am ever to see. (Geoffrey Gorer, Bali and Angkor. Or Looking at Life and Death, 1936: 42-43)
Cremation and Sang Hyang and Kecak Dance (1926)
Geoffrey Gorer may have been recalling some memorable early images of Bali which came from the prose and pictures of a German book first published in 1920, Bali, by Gregor Krause. And in 1926 the first moving pictures of Bali were made available to the world by a Dutch film-maker named W. Mullens. His films were titled Bali – Leichenverbrennung und Einascherung einer Fürstebwitwe (Royal Cremation) and Bali – Sanghijang und Ketjaqtanz (Sang Hyang and Kecak Dance). The royal cremation featured the corpse of a queen of Bangli being carried on to a cremation tower before being taken to the graveyard and burnt in a lion-shaped sarcophagus. The Sanghyang is a trance dance performed by young girls. We can imagine that the sight of little girls swaying in an incense-filled atmosphere, surrounded by seated men with arms akimbo, must have looked particularly weird to Europeans in 1926. Mullens may have worked with Gregor Krause, who was based in Bangli, especially since these images fit into the scheme of Krause’s book. They add depth to the idea of Bali’s culture, but present some of the most extreme and exotic visual aspects of that culture.
Calon Arang, 1927
In 1927 the image of the witch was brought to the screen in the first fiction film set on Bali, Calon Arang. Little is known of this film, and no copies survive, but the makers probably had links with the Italians who owned the moving picture theatre in Denpasar, where Charlie Chaplin played on the screen for enthusiastic Balinese audiences. The film Calon Arang was described as a tropical romance featuring palm trees, beachcombers, and ‘the inevitable bevy of dusky beauties such as never were seen on land or seas’. This comment tells little about the film, but it does show how conscious the image-makers of Bali were of trying to add depth and respectability to the idea of Bali.
The Rangda (witch-heroine of the Calon Arang story) and the kris dance eventually became the most potent of all the elements of Bali’s image, and could be counterpoised to the superficial image of the tropical paradise. The gentle figure of the young female dancer of the Sang Hyang trance dance was balanced by the horrible figure of the witch of Calon Arang. If Dr Krause tried to emphasise harmony and the organic community in his description of Bali, then the Rangda represented the other side of this image, the feeling that lurking under the harmony there were wild forces ready to run amok. The ‘Island of the Gods’ has also been called ‘The Island of the Demons’, most notably in a German film shot in 1931, and later in a Dutch novel of 1948.
Little is known of a Dutch film titled Mahasoetji: Van Java’s Vulkanengweld en het Wondere Bali made in 1929 by NIFM. However, the next important movie shot in Bali has the most wonderful title of Goona-Goona, An Authentic Melodrama.
Goona-Goona (also called The Kris), 1930
The remote little island only became news to the rest of the Western world with the advent, a few years ago, of a series of documentary films of Bali with a strong emphasis on sex appeal. These films were a revelation and now everybody knows that Balinese girls have beautiful bodies and that the islanders lead a musical-comedy sort of life full of weird, picturesque rites. The title of one of these films, Goona-goona, the Balinese term for “magic”, became at the time newyorkese for sex allure. The newly discovered “last paradise” became the contemporary substitute for the nineteenth-century romantic conception of primitive Utopia, until then the exclusive monopoly of Tahiti and other South Sea islands. And lately travel agencies have used the alluring name of Bali to attract hordes of tourists for their round-the-world cruises that make a one-day stop on the island.”
(Miguel Covarrubias, Island of Bali, 1937)
Actual organised tourism came to Bali in the 1920’s. By 1930 up to 100 visitors a month were arriving, mostly by sea. Their ecstatic reports were so positive that by 1940 this figure had increased to about 250 per month, not including the passengers on the various cruise ships that advertised a day or two in Bali as the highlight of their winter schedules.
The Dutch Steamship Line, K.P.M., initiated the first tourist passages to Bali on its cargo ships and several enterprising characters were quick to take advantage of these developments. A Persian-Armenian, M.J. Minas, was the first to realise the tourist potential. He introduced moving pictures to the villages, travelling with a portable projector, and he established the first movie theatre in Buleleng. Minas started picking up passengers off the K.P.M. ships in about 1920. An American adventurer, Andre Roosevelt, arrived in Bali in 1924 and joined Minas, bringing American Express and Thomas Cook patronage with him. Andre Roosevelt undertook in the 1920s to develop the tourist market, although this did not deter him from suggesting measures to preserve the integrity of Balinese society and its culture:
Having leisure, my friend Spies and I started a scheme which would tend to slow down the invading forces from the West and keep the Balinese in their happy, contented ways for a few decades longer ….. We want to make of Bali a national or international park, with special laws to maintain it as such.
(in Hickman Powell, The Last Paradise, 1930: xiv-xvi)
The black-and-white film Goona-Goona, An Authentic Melodrama, also called Der Kris and The Kris, was originally shot in 1928 and 1929 by Andre Roosevelt and Armand Denis with assistance at the outset from Spies. Walter Spies wrote about his collaboration with Roosevelt: “I’m doing the directing and most of the work; a certain Mr Roosevelt turns the handle. I’ve got a marvellous, very simple story for it and have found some very good actors.”
Much of it was re-filmed in 1929 after a processing accident in Surabaya in November 1928. Walter Spies was not involved in the re-shooting. The film was first released in America in 1930.
Goona-Goona was most likely the movie which inspired K’tut Tantri, author of Revolt in Paradise, and later famous as Surabaya Sue, to travel to Bali in 1932:
It was a rainy afternoon and, walking down Hollywood Boulevard, I stopped before a small theatre showing a foreign film and on the spur of the moment, decided to go in. The film was entitled Bali, the Last Paradise. I became entranced. The picture was aglow with an agrarian pattern of peace, contentment, beauty and love. Yes, I had found my life. I recognised the place where I wished to be.
(K’tut Tantri, Revolt in Paradise, 1960)
Although K’tut Tantri mentions that her decision to travel to Bali in 1932 was inspired by a film entitled Bali, the Last Paradise, this must be incorrect. Hickman Powell published a book about Bali with a similar title in 1930, but there was never any film of that name. There was a film entitled Bali, the Lost Paradise, a 12-mm black-and-white film made by Michael Lerner but this was American, not foreign, and was not made until 1939, seven years after K’tut Tantri’s arrival in Bali. Der Insel der Dämonen was not released until 1933 and so Goona-Goona was probably the only film of Bali that could have been viewed in America in 1932.
The film was very successful and actually started an American craze for all things Balinese. In New York high society goona-goona, a Malay and Javanese term for love magic, was turned into a popular phrase. Goona-Goona can be credited with linking sex and magic in the popular image of Bali.
Insel der Dämonen / The Island of the Demons (1933)
Probably not released until 1933, Der Insel der Dämonen was also known as The Island of Demons and confusingly, also as Black Magic. Credits for the film include Producer-Director, Baron Viktor von Plessen; Camera, Dr Dalsheim; Scenario, casting and choreography, Walter Spies.
During 1931, Walter Spies’ house in Campuhan, Ubud was packed with a crowd of film people. Viktor Baron von Plessen was making the classic Bali-film, Insel der Dämonen with a collaborator, Dr. Dalsheim. Spies’s name was the guarantee for a scenario faultlessly faithful to Bali with the right actors and effective choreography. This was the occasion for which Spies remodelled the kecak , the so-called monkey-dance. He increased the number of participants to more than a hundred young men sitting in a circle, and also introduced the figure of the dancer-narrator who recites, in the light of a central standing lamp, tales from the Ramayana involving the exploits of Hanoman, the monkey-general.
The film was a love story about two peasants. Their harmonious village life was destroyed by a Rangda-like witch who created an epidemic which devastated the happy village community. Only exorcistic rituals could stop her and return the village to its normal state. The film runs the full gamut of the images that interested Spies. It starts with beautifully-filmed landscapes featuring water-filled rice terraces reflecting the sky, and scenes of hard-working (but happy) farmers in the fields. Then came the ideal community, disrupted by a bitter woman whose shifty looks betrayed her evil nature, who was eventually revealed in the form of Rangda. Throughout the scenes of witchcraft and exorcism Spies wove documentation of Balinese dances and rituals. This documentation guaranteed the authenticity of the scenes, showing that they were giving an insight into the ‘real’ Bali behind the superficial tourist images.
BALI MOVIES IN THE 1950S
The Bali scene of the 1920s and 1930s was an escape from Europe and America, from the values of the West to a spiritually deeper and richer world. In the post-war era Bali was one of the balms to soothe a traumatised world. In this era of renewed interest in both the East and the Pacific, Broadway hits like The King and I and South Pacific gained enormous popularity first on stage and subsequently on screen. The 1950s version of these ideal places was even further removed from reality than the 1930s images. Broadway and Hollywood produced images that would try to recapture the lost world of the pre-war era. In doing this, they actually created something that never was.
In the Hollywood of the pre-war era the Indies were regarded as one part of the South Seas islands, and were most memorably featured as the place where the gigantic gorilla King Kong was found in the film of the same name. In the 1930s Primitive art and culture were at the heart of both intellectual and popular interest, featuring in the art of Picasso and the Surrealists as well as the dances of Josephine Baker. One aspect of this interest in Primitivism was the emphasis on the sexual and magical aspects of Bali. By the 1950s Hollywood was replacing them with more idyllic ideas.
The Road to Bali (Paramount Pictures, 1952)
Directed by Harry Tugend, and starring Bob Hope and Bing Crosby, The Road to Bali is the ultimate amalgam of images of Southeast Asia and the Pacific. Under the guise of humour the movie managed to include cannibals, wild animals and a giant squid, as well as Humphrey Bogart and Katharine Hepburn pulling The African Queen. The plot, had Hope and Crosby fleeing from a pair of ‘matrimony-minded girls’ in Australia to ‘a South Sea island’ (Bali), where they met Dorothy Lamour playing a beautiful princess and island adventurer who was seeking sunken treasure. Lamour’s famous sarongs were combined with various bits of apparel from Thailand, India and other parts of Asia.
John Coast (author of Dancing out of Bali) managed to persuade the producers to put in a few token scenes of Balinese dance, featuring three young Balinese legong dancers of the Peliatan troupe which was in the middle of its amazingly successful world tour. The troupe was in the USA in 1952 at the time that The Road to Bali was being made in Hollywood. The young dancers were immortalised in the movie, the latter-day version of one of the symbols of Bali, dancing so beautifully in front of cardboard cut-outs of what Americans thought a Balinese temple might look like, in this ultimate version of the fantasy of Bali.
South Pacific (directed by Joshua Logan, Twentieth Century Fox, 1958)
Directed by Joshua Logan for Twentieth Century Fox in 1958, the ‘Bali Hai’ of South Pacific had nothing directly to do with the people who lived in Bali in the 1930s, but everything to do with Bali’s image. When searching for an island which would be the ultimate encapsulation of all the ideals of the era, the name Bali came readily to mind. Little matter that the island shown as Bali Hai was not in the right ocean, the name and the soothing sea-breeze-like notes of the hit song were enough. Hollywood, never worried about geographical niceties, made Bali the paradise of paradises by combining all the ideals of the South Seas into one.
Michelle Chin is a writer and arts management consultant based in Ubud. She has been living in Bali for most of the past twenty years.
As published in michellechin.net
Trend
Sesungguhnya beragam pilihan sepatu yang ada belum tentu cocok dengan Anda. Maunya gaya malah tampil tidak percaya diri. Beragam model sepatu yang muncul di dunia mode kita saat ini memang mengundang lapar mata. Karena modelnya lucu, unik, dan terlihat sangat modern. Rasanya akan ketinggalan zaman kalau Anda tidak ikut melirik model sepatu yang sedang in. Salah satunya adalah flat shoes.
Memiliki postur tubuh yang tinggi memang menguntungkan bagi Anda yang berkutat di dunia entertainment. Berlenggak lenggok di atas catwalk atau berakting di depan kamera menjadi suatu kegiatan yang menarik ditunjang dengan bodi yang nyaris sempurna. Kaki, tangan, dan leher jenjang seolah menjadi suatu syarat utama bagi para model untuk terjun ke dunia hiburan. Tentunya bakat dan semangat untuk maju tetap dibutuhkan oleh masing-masing model agar tetap eksis di dunia yang cenderung menonjolkan sisi estetika dan seni ini.
Namun, bagaimana bila tubuh semampai Anda malah membawa Anda pada bidang lain? Hmm…ya sudah terbayang jika beberapa pujian memang terlontar penuh kagum, tapi tak memungkiri juga jika beberapa celaan dan julukan “si bangau”, “si jangkung”, “si kaki panjang” kini terbiasa menemani Anda.
Memang menyebalkan mendengarkan komentar-komentar tak sedap. Pada akhirnya Anda yang seharusnya bangga dengan tubuh semampai Anda, menjadi minder dan tidak percaya diri. Mengapa harus begitu?
Dunia fashion tak pernah mengalami kemunduran, dan selalu dapat mempermak Anda menjadi lebih cantik dan tampil sempurna bukan?
Jadi apa yang harus Anda lakukan untuk mengimbangi tampilan Anda? Kenakan flat shoes dan gantikan high heels Anda. Mengapa harus flat shoes? Flat shoes akan membuat tampilan Anda seimbang. Karena kaki dan tubuh Anda cenderung panjang, penggunaan high heels bolehlah Anda kurangi. High heels akan membuat Anda tampil makin tinggi, Anda tak ingin mendengar olok-olok yang makin menggemaskan bukan?
Sebagai comfortable shoes, flat shoes akan memanjakan kaki Anda dan membuatnya lebih nyaman. Tak lagi tersiksa oleh ketidaknyamanan high heels, desain flat shoes membuat otot-otot kaki Anda lebih rileks dan regang, seperti halnya ketika Anda mengenakan sandal jepit/sandal rumah. Agar Anda lebih fit dan aktif sepanjang hari, percayakan pada flat shoes.
Apa hubungan flat shoes dengan aktivitas Anda? Dengan mengenakan flat shoes Anda akan lebih bebas bergerak, tak perlu takut jatuh dan bingung menata langkah.
Flat shoes juga mampu membantu Anda mengurangi ketegangan dan stres akibat tekanan aktivitas. Desain nyamannya membuat Anda tetap rileks dan nyaman.
Jadi jika memang flat shoes memberikan yang terbaik, mengapa Anda tak segera mengganti high heels Anda dengannya?
(net/osi)
Artikel
VIVAnews – Salah satu dampak paling dirasakan oleh kerusakan lingkungan di Bali, yakni besarnya peran industri pariwisata, dan yang paling tampak adalah air. Air di Bali ini paling banyak dikonsumsi untuk kebutuhan pariwisata sehingga menimbulkan konflik antara industri dengan masyarakat,” kata Derektur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali, Agung Wardhana, Rabu 13 Mei 2009.
Agung mengatakan, untuk satu kamar hotel di Bali menghabiskan 3.000 liter per hari, lapangan golf sampai tiga juta liter per hari, sedangkan untuk masyarakat hanya 200 liter per orang per hari. “Bayangkan, berapa ribu kamar hotel di Bali ini yang membutuhkan pasokan air? Padahal saat ini juga banyak berdiri hotel-hotel baru yang terus dibangun. Akibat dari banyaknya kebutuhan untuk pariwisata, maka kuantitas dan kualitas air di Bali ini menurun,” ujarnya.
Ia mengemukakan, saat ini mulai banyak konflik antara masyarakat petani yang menganut sistem subak dengan PDAM, seperti yang terjadi di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Bahkan di wilayah itu dilaporkan terjadi pemukulan oleh petani terhadap perangkat desa. “Saya kira masalah ini harus mulai dipikirkan oleh pemerintah. Kalau hal ini terus dibiarkan, maka Bali sama saja dengan bunuh diri. Kalau Bali sudah kekurangan air, siapa lagi yang mau datang ke Bali. Ini dampak yang paling jelek,” katanya.
Menurut dia, pendirian sejumlah fasilitas mewah, seperti lapangan golf dan hotel sebetulnya tidak mendukung industri pariwisata, karena turis asing datang ke Bali bukan untuk bermain golf, melainkan untuk menikmati kekhasan budaya dan alamnya. “Jadi kebijakan pariwisata selama ini harus ada evaluasi. Kalau sistem pertumbuhan yang selama ini dianut dibiarkan terus, maka dampaknya akan luas. Makanya harus dicarikan model baru,” ujarnya.
Selain itu, ia juga meminta agar investor juga dimintai tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan di Bali. Hal itu tentunya membutuhkan perangkat peraturan sehingga semua pihak ikut peduli pada pelestarian lingkungan di Bali. Hal lain yang merupakan dampak dari industri pariwisata di Bali adalah, nilai jual obyek pajak (NJOP) tanah naik dibandingkan sebelumnya. Akibatnya petani terbebani oleh pajak, sementara hasil tanaman mereka harganya tidak beranjak.
“Akibatnya petani tergoda untuk menjual tanahnya. Tanah yang dulunya lahan produktif akhirnya dikonversi menjadi lahan untuk pariwisata. Di Bali ini, pertahun ada 600 hingga 1.000 hektare lahan produktif yang dikonversi,” ujarnya. (tvone)
• VIVAnews
Musik
Album Superman is Dead dengan judul Hangover Decade dan album “Kuta Rock City” disini bisa kamu dapatkan gratis. Silahkan klik link berikut ini untuk mendownload.
Event
Lovina, Setelah lima belas tahun dalam proses pemugaran setelah ditemukan seorang warga saat menggali sumur, Situs Candi Budha Kalibukbuk kini berdiri dengan kokoh dan dibuka untuk umum setelah diresmikan Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.
Situs Candi Budha Kalibukbuk yang berlokasi di Desa Kalibukbuk, sebelah selatan persimpangan Lovina, Minggu (24/5) diresmikan Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Hari Untoro Drajat dan selanjutnya keberadaan peninggalan abad VII – XIV Masehi itu dinyatakan terbuka untuk umum.
“Peninggalan sejarah berbentuk Situs Candi Budha ini, selanjutnya diserahkan pengelolannya kepada pemerintah kabupaten Buleleng sesuai dengan UU.RI No. 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya, Kita bertugas memugar peninggalan sejarah untuk dilestarikan. Pemanfaatan selanjutnya, kita serahkan kepada pemerintah daerah,” ungkap Hari Untoro Drajat.
Sesuai dengan UU.RI No. 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya, keberadaan Situs Candi Budha Kalibukbuk, yang dipugar diatas lahan seluas 6 are milik Anak Agung Ngurah Sentanu, dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kepentingan agama, sosial, ilmu pengetahuan, dan pariwisata.
”Sekarang, bagaimana Pemkab mengelola peninggalan sejarah dan pubakala ini untuk kepentingan daerah dan masyarakat, yang jelas, Situs Budha yang ditemukan dan dipugar ini memiliki nilai sejarah dan juga menunjukkan toleransi antar umat sekitar abad VI-XIV di wilayah Desa Kalibukbuk. Nilai-nilai itulah yang harus dijaga dan ditauladani pada kehidupan saat ini,” papar Hari Untoro Drajat.
Plt.Sekretaris Daerah, Sekda Kabupaten Buleleng,Ketut Gelgel Ariadi yang dikonfirmasi terkait pengelolaan Situs Candi Budha Kalibukbuk setelah diresmikan, menyatakan siap menerima dan mengelola situs tersebut untuk kepentingan daerah dan masyarakat.
”Pemkab melalui Disbudpar akan mengelola situs ini untuk kepentingan agama,sosial,ilmu pengetahuan,dan juga pariwisata. Situs yang berada dekat dengan pusat pariwisata Lovina, akan dapat menambah objek pariwisata Lovina yang selama ini hanya mengandalkan panntai,” ujar Gelgel Ariadi.
Sementara, keberadaan Situs Candi Budha Kalibukbuk, pertama kali diketahui dengan ditemukannya stupika dan meterial tanah liat oleh penduduk setempat saat melakukan penggalian kolam renang di belakang Hotel Angsoka pada tahun 1991, kemudian pada tahun 1994, untuk kali kedua ditemukan benda serupa dikebun kelapa milik Anak Agung Sentanu saat akan mengali tanah untuk membuat sumur.
Dari penemuan itu, selanjutnya dilakukan penelitian secara intensif mulai tahun 1994 sampai dengan tahun 2002. Sedangkan pemugarannya berlangsung tahun 2004-2009. Dari eskavasi penyelamatan, ditemukan batu bata bertulis motif sulur-suluran, relief gajah dan gana yang merupakan bagian dari candi, 100 stupika, serta susunan batu andesit. Berdasarkan temuan itu, Candi Kalibukbuk diperkirakan berasal dari sekitar abad VII-XIV Masehi. (sas)
sumber : www.beritabali.com


“BARONG” merupakan peninggalan kebudayaan Pra Hindu yang menggunakan boneka berwujud binatang berkaki empat atau manusia purba yang memiliki kekuatan magis. Diduga kata barong berasal dari kata bahrwang atau diartikan beruang, seekor binatang mythology yang mempunyai kekuatan gaib, dan dianggap sebagai pelindung.



















